Sebuah video pendek dari seri terbaru “One Word” garapan Cut Video menayangkan reaksi 36 perempuan berusia 15 sampai 50 tahun terhadap kata “aborsi”. Perempuan yang menjadi partisipan dalam video ini diminta untuk menyebutkan hal pertama yang melintas di dalam pikirannya ketika mendengar kata tersebut. Hasil survey ini menjadi kontribusi pengetahuan yang amat bermakna dalam diskursus hak reproduksi perempuan.

Salah seorang partisipan yang bernama Madison (22 tahun) mengatakan dengan tegas bahwa aborsi merupakan bagian dari hak perempuan. Tidak sedikit partisipan yang memberikan respon senada dengan Madison.

“Aborsi merupakan pilihan bagi perempuan. Baik dalam satu maupun dua puluh minggu, hal ini tetaplah haknya untuk memilih,” ujar Maureen (32 tahun).

Akan tetapi, terdapat beberapa perempuan yang seutuhnya menolak aborsi. Melissa (15 tahun) mengatakan bahwa aborsi sama saja dengan membunuh. Selain Melissa, tidak sedikit juga yang berdiri di posisi kontra.

“Pada dasarnya, mereka membunuh bayi mereka. Meskipun bayi itu masih di dalam tubuh mereka,” ujar Anna (20 tahun) yang berpendapat bahwa aborsi itu salah.

“Aku selalu memegang prinsip pro-life. Kehidupan adalah yang utama. Aku merasa bahwa mereka yang pro-choice hanya memikirkan kepentingan sang ibu. Mereka tidak memikirkan janin sebagai individu baru hanya karena bayi-bayi di dalam perut tidak dapat bersuara,” lanjut Anna.

Di dalam video survey tersebut, ditemukan hanya 10 dari 36 perempuan yang mengasosiasikan kata “aborsi” dengan kata “pilihan”. Dengan demikian, video ini mengingatkan kita bahwa hak perempuan masih jauh dari kondisi penerimaan yang layak, bahkan oleh kaum perempuan itu sendiri. Tidak heran jika banyak pihak meyakini bahwa musuh terbesar feminisme adalah perempuan yang tidak memahami apa yang menjadi haknya, bukan kaum laki-laki.

 

Disunting dari: www.huffingtonpost.com

(jurnalis: Nina Bahadur | penerjemah / penyunting: Cittairlanie | foto: www.damemagazine.com)

Send this to a friend