Feminisme. Ketika mendengar kata ini, pasti muncul bermacam-macam opini di pikiran ladies. Mungkin saja ladies menganggap kata ini sebagai gerakan perjuangan hak perempuan, tetapi mungkin juga menganggapnya gerakan anti laki-laki. Pada dasarnya, gerakan feminisme adalah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender, dimana dalam budaya dominan, hak-hak bagi perempuan tidak dipandang setara dengan laki-laki. Di dalam artikel ini, ladies akan disuguhkan perspektif seorang perempuan terhadap gerakan feminisme dalam topik muslimah yang mengenakan jilbab.

Wacana jilbab sebagai bentuk opresi terhadap perempuan yang beragama Islam banyak berkembang dan mengatasnamakan gerakan feminisme. Jilbab dikatakan sebagai penjara bagi muslimah dan pencideraan terhadap hak atas tubuhnya. Seperti yang kita ketahui, sebagian muslimah tidak menutup aurat mereka dan sebagian lagi menutupnya. Tetapi, apakah mereka yang menutup auratnya selalu melakukan hal itu karena paksaan? Hanna Yusuf, seorang penulis lepas (freelance writer), yang memilih untuk mengenakan jilbab dalam aksinya mendukung feminisme, menegaskan bahwa dirinya menutup aurat bukan atas dasar paksaan maupun dengan perasaan terpenjara.

Di dalam video terbaru yang diunggah The Guardian, Yusuf menentang stereotipe yang ada selama ini dengan memproklamirkan bahwa mengenakan jilbab tidak berseberangan dengan gagasan feminisme. Meskipun Yusuf tidak mengatakan bahwa alasannya menutup aurat dapat diberlakukan bagi semua muslimah yang juga melakukannya, tetapi ia ingin dunia tahu bahwa ada muslimah yang menutup aurat atas kehendak bebasnya.

“Jilbab yang aku kenakan tidak ada hubungannya dengan opresi,” tegas Yusuf.

Yusuf mengakui bahwa di berbagai masyarakat di dunia, perempuan tidak diberikan kesempatan yang sama untuk memilih apakah mereka ingin menutup auratnya atau tidak. Akan tetapi, ia menekankan bahwa publik harus berhenti mengasumsikan semua muslimah yang berjilbab mengenakannya atas dasar opresi atau paksaan, kemudian menganggap rendah perempuan yang berjilbab. Yusuf ingin memaknai ulang motif perempuan mengenakan jilbab, yaitu bahwa ada sebagian dari mereka yang memang memilih untuk menutup tubuhnya bukan mengeksposnya.

“Tidak ada korelasi antara kemerdekaan perempuan dengan menutup aurat maupun tidak. Nilai dari kemerdekaan itu terletak pada kebebasan untuk memilih. Baik mengenakan jilbab, burka, maupun bikini, perempuan harus merasa merdeka dan bebas untuk memilih apa yang ingin ia kenakan dan segenap masyarakat harus melindungi  dan menghormati kemerdekaan ini,” ujar Yusuf.

Melalui pesan inspiratif dari Hanna Yusuf, ladies diajak untuk memandang setiap perempuan berhak untuk memilih apa yang ingin ia kenakan, termasuk apabila ia ingin menutup auratnya. Aktualisasi diri perempuan terletak pada bagaimana ia menentukan pilihan, bukan apa pilihannya. Setiap perempuan harus merasa merdeka untuk memilih bagi dirinya sendiri.

 

 

Disunting dari: The Huffington Post

(jurnalis: Nina Friend | editor/penerjemah: Cittairlanie | foto: www.ibtimes.co.uk)

Send this to a friend