Salah satu masalah klasik yang menghambat dunia perfilman adalah sulitnya mencari modal pembiayaan. Namun ada cara lain yang bisa dilakukan selain menunggu investor yakni melibatkan perusahaan atau brand untuk sponsorship.

Menurut Arismuda Irawan, Direktur Sinemata, lembaga marketing film agency dan sponsorship, kebanyakan pembuat film hanya mengandalkan penjualan tiket untuk mengembalikan investasi biaya pembuatan film.

“Kebanyakan produser film jarang yang memikirkan untuk mencari sumber pendanaan dari sponsorship dan cara lain, mayoritas hanya mengandalkan penjualan tiket,” kata dia.

Hal ini disampaikannya dalam forum diskusi bertajuk Cinema Indonesia; Kemarin, Hari Ini dan Masa Depan, yang digelar Film and Art Celebration (Filartc) 2015 di Teater Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu (28/3/2015).

Salah satu proyek film yang sukses dengan sistem sponsorhip adalah film Bajaj Bajuri dengan PGN. Namun diakuinya tak semua film bisa sukses mendapatkan sponsorship dari perusahaan atau brand.

Salah satu kendalanya adalah kesulitan untuk mendapat prediksi yang ajeg tentang bakal penonton film tertentu. Acap kali film yang diprediksi akan ‘meledak’ di pasaran ternyata jumlah penontonnya tidak sesuai target.

“Kesulitan kita menjual film karena pastinya agency akan menanyakan berapa sih Key Performance Indicator. Susah untuk memperkirakan berapa jumlah penontonnya,” ujarnya.

Namun kesulitan itu bisa diatasi dengan meyakinkan calon sponsor tentang keunggulan yang akan didapat jika mensponsori film dibandingkan membuat iklan televisi.

Pembuat film, kata dia, bisa berargumen dengan produsen yang sedang kampanye atau ikut dalam sponsorship film.

“Kuncinya adalah meyakinkan mereka akan dapat eksposure cukup besar karena film bisa diputar satu hingga dua tahun, kalau iklan jarang dapat eksposure selama itu,” kata dia.

Lebih lanjut, dia menyatakan pembuat film juga perlu realistis agar tidak terjebak dalam kerugian. Jika target penonton film lokal rata-rata 250.000 orang, maka jangan membuat film dengan budget fantastis sampai Rp20 miliar.

(kabar24/ Photo : moodle)

Send this to a friend