Mengikuti tren fesyen global yang mulai peka terhadap faktor sosial dan lingkungan, keberadaan ethical fashion atau fesyen etis akan digencarkan di Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah mengatakan pihaknya sedang dalam proses untuk menggalakkan program ethical fashion di Indonesia, bekerja sama dengan komunitas desainer, salah satunya Merdi Sihombing.

“Di luar sudah lama . Kita juga akan mengikuti simposium internasional, yang ke depannya akan ada banyak simposium yang membahas tren ethical fashion,” ujarnya pada Bisnis belum lama ini.

Euis menjelaskan beberapa contoh penerapan fesyen etis seperti memerhatikan lingkungan mulai dari pemilihan bahan baku, penggunaan teknologi ramah lingkungan, dan proses pengolahan dari pembuatan produk itu sendiri.

“Bagaimana kita manfaatkan pewarnaan dari bahan alami seperti tumbuhan,  biota laut, apa pun yang ada tanpa merusak dan menyakiti,” katanya.

Dia memberi contoh seperti pemanfaatan serat alam maupun daun yang sudah gugur untuk dijadikan pewarna. Menurut keterangan Euis, pihaknya kini telah menyusun daftar bahan alami yang bisa dimanfaatkan oleh industri ini.

Selain faktor lingkungan, ada juga faktor sosial yang memerhatikan kesejahteraan perajin dan buruh dalam industri ini.

“Termasuk untuk menghargai upaya mereka dan produk itu sendiri. Jangan sampai tenun Nusa Tenggara Timur yang buatnya sampai dua minggu, tapi dipotong-potong. Padahal dibelit saja sudah bisa menarik perhatian. Itu nanti bisa jadi bahan pemikiran,” katanya.

Dia mengatakan fesyen etis akan membantu menjaga keberlangsungan dari industri fesyen sekaligus lingkungan. “Jadi ada tata cara dan sopan santunnya,” tutup Euis.

(bisnis.com/ wikimedia.com)

Send this to a friend