Pretty Boys film adalah film sederhana yang merefleksikan kejadian sehari-hari di Jakarta,  dimana banyak perantau mencari uang dan berusaha mewujudkan mimpi meraka. Film ini dibalut adegan komedi yang dilakukan oleh Anugerah (Vincent Rompies) dan Rahmat (Desta), dekat dengan keseharian penonton sehingga menjadi menarik, receh tapi lucu. serta dialog yang menyindir film atau acara televisi.

Film ini sebenarnya cukup menyoroti perilaku industri pertelevisian yang menempatkan peran kewanitaan pada lelaki, alias ‘ngondek’ atau kemayu sebagai jualan demi mengeruk rating. Seperti Anugerah dan Rahmat memulai pekerjaan di televisi, mereka harus ‘ngondek’ dengan alasan “tuntutan pekerjaan”. Dialog juga menunjukan bahwa industri pertelevisian dekat dengan kelompok masyarakat marjinal ini, mulai dari crew hingga penonton bayaran.

Walaupun sering disinggung, hampir tidak ada dialog atau adegan secara lugas yang mendiskriminasi kelompok tersebut dalam film. Terlepas dari banyak hal yang ‘ngondek’, berbagai dialog dan adegan dalam film Pretty Boys bisa diartikan sebagai kritikan terhadap industri pertelevisian yang kerap mengeksploitasikan sebagian pihak hanya untuk objek penarik pundi-pundi . Namun sejumlah dialog memang rawan akan stereotip terhadap masyarakat ini. Seperti ketika ada ucapan santai dari Anugerah yang mengkritik tabiat Rahmat yang tak setia terhadap perempuan. Rahmat sebal karena dikritik, ia membalas dengan kalimat “cerewet seperti banci” untuk Anugerah. Kemudian, Anugerah membalas “banci kok ngomong banci”.

Imam Darto yang baru pertama kali menulis naskah film layak mendapatkan pujian, meskipun masih banyak kekurangan seperti beberapa dialog yang membosankan dan perpindahan adegan yang kurang halus.. Debut Tompi sebagai sutradara juga layak mendapatkan pujian. Peluang untuk serius menjadi sutradara nampak terbuka luas baginya. Pengambilan gambar yang tidak biasa membuat saya mendapatkan sudut pandang berbeda dibandingkan film lainnya. Salah satunya sudut pandang adegan Anugerah Rahmat dan Bos CCTV di dalam mobil, gambar dapat bisa mengobservasi apa yang terjadi.

Satu hal yang juga patut diapresiasi dalam film ini adalah panoramic view dan pemandangan kota dalam film ini yang memanjakan mata penonton. Saat berada di Jakarta, Tompi ingin menampilkan bagaimana gemerlapnya ibukota tersebut dengan pemandangan kota di malam hari. Sementara saat sedang di kampung, panoramic view juga digunakan sehingga kita bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok antara kondisi kota dan pedesaan.

 

Penulis: Ratna Sari
Editor: Elga T.

Send this to a friend