Marah terhadap sesuatu mungkin memang wajar jika dialami setiap orang ketika sedang kesal. Perasaan marah merupakan emosi yang sehat, sama seperti tertawa dan menangis. Namun, bila amarah sangat mudah terpancing, apakah juga wajar?

Dr. Helen Stokes Lampard dari Royal College of General Practitioners menyatakan bahwa beberapa kondisi medis dan obat-obatan yang diberikan bisa saja menjadi penyebab perasaan marah seseorang. Beberapa di antaranya akan dijelaskan di bawah ini.

  • Obat Kolesterol

Statin yang diberikan sebagai obat kolesterol tinggi bisa menimbulkan efek samping, yaitu menyebabkan seseorang mudah hilang kesabarannya dan mudah emosi. Melalui studi yang dilakukan para peneliti di Universitas California, statin membuat serotonin lebih rendah, dan hal itu yang bisa menyebabkan peningkatan depresi dan kematian.

  • Depresi

Paulus Blenkiron yang merupakan seorang psikiater di Bootham Park Hospital, New York, mengatakan bahwa depresi yang dialami seseorang dapat mengakibatkan perasaan tidak berharga, malu, atau merasa bersalah. Karena itu, penderita depresi kerap kali merasa sangat mudah marah dan gelisah.

  • Diabetes

Penderita diabetes yang kekurangan gula darah, dapat meningkatkan kemarahannya, sebab ketidakseimbangan kadar gula pada tubuh bisa mengakibatkan ketidakseimbangan serotonin dalam otak. Akhirnya, orang mejadi lebih panik, bingung, mudah marah dan emosi yang berlebihan, dan menjadi lebih agresif.

  • Autisme

Meskipun tidak selalu, namun  beberapa kondisi penyandang autisme bisa menjadi penyebab meningkatnya amarah. Gangguan perkembangan sangat memengaruhi pertumbuhan otak secara normal, seperti untuk keterampilan sosial dan komunikasi. Dari situ, banyak hal yang menstimulasi sensorik yang menyebabkan kemarahan.

  • Sindrom Pra Menstruasi

Bagi para wanita, hal ini pasti sudah menjadi tamu bulanan kan, lifestyler. Fenomena ini seringkali terjadi karena ketidak seimbangan hormone pada wanita, seperti estrogen dan progesterone. Menurut American College of Obstetrics and Gynecology, mood wanita dapat berubah selama 2 minggu terakhir di siklus menstruasi, atau 2 minggu sebelum menstruasi.

Setelah membaca 5 informasi di atas, sekarang kalian tahu kan kalau asal amarah itu belum tentu dari sifatnya loh, lifestyler. Bisa saja karena obat-obatan yang dikonsumsi, atau kondisi tertentu nih.

(Sanchia | Foto: nuga.co, ncl.ac.uk)

Send this to a friend